Senin, 30 Mei 2011

Cerita Tan Tiek Siu(III)

 
IV Membangun Situs Goa Pendhem Pasetraan Gondo Mayeet Soemberagoeng

Walaupun ia menolak kembali ke Surabaya, tak ayal, peristiwa kedatangan kerabatnya tersebut membuatnya teringat kembali kepada almarhum kedua orangtuanya, apalagi ingat saat dirinya diusir oleh kerabatnya semasa ia masih anak-anak(usia 9 th), ini semua membuatnya sangat sedih dan begitu terpukul.....
Lantas ia mengurung diri dan merenungi nasibnya......kemudian ia memutuskan untuk kabur dari rumah untuk mencari ketenangan dan terobsesi pada sumber air tertentu yaitu ; 1) sumber mata air utama, berada di Sumberagung, persis didepan miniatur kelenteng yang dibangunnya, 2) sumber mata air di tengah pasar kota Banyuwangi(berupa sumur artesis yang dibangun penjajah kala itu), 3) sumber mata air ditengah sawah di Pacuh, Ngancar, Kediri, 4) sumber mata air di Klampok, Sendang, Karangrejo(lereng G Willis), 5)sumber mata air di Durenan, Trenggalek(lereng G Willis).
.
Setelah semua pencarian yang begitu melelahkan ini tunai, ia kemudian mengasingkan dirinya untuk sementara waktu di G Willis(ini bukan untuk bertapa) dan melepaskan semua beban yang menghinggapi hidupnya dan kerinduannya pada almarhum kedua orangtuanya.....
.
Dan, justru di G Willis inilah ia dapat dengan leluasa menumpahkan semua kreativitas sastra yang terpendam dalam dirinya. Ia menulis banyak sekali karya sastra disini.....yang dikemudian hari dibukukan dan beredar secara terbatas.
.
Konon karena saking gembiranya, dan juga untuk merayunya, pak Boediman menghadiahkan sebidang tanah pada Tan Tik Sioe di sebelah kiri rumah(loji) kediamannya,setelah itu ia meminta untuk menutup sumber mata air yang sangat besar sebagai pemasok air rawa remang. Tan tik tidak tahu bahwa ia sudah diakali, karena, alasan sebenarnya adalah agar memudahkan Belanda untuk melakukan aktivitas tambang kelak dikemudian hari, karena lebih mudah dilakukan penambangan bila rawa dalam keadaan kering. 

Sebidang tanah hadiah berukuran sekitar 60m X 40m tersebut kemudian ia manfaatkan untuk membangun tempat tinggal sekaligus tempat ritual berupa bangunan mirp goa pendhem dari beton yang memang sudah dirancangnya tatkala ia masih berada di pengasingannya di G Willis. Goa ini ia beri nama Pasetraan Gondo Mayeet yang kini lebih dikenal dengan sebutan Goa Tan Tik Sioe [Tan tik siu] .
.
Pada waktu-waktu tertentu ia memanfaatkan halaman"rumahnya" untuk mengadakan pertunjukan olah kanoragan dengan mengundang tokoh-tokoh setempat. Ada pertunjukan barongsai disini, ada juga "jaranan" yang merupakan budaya kesenian setempat. Di tempat yang sama pula ia begitu kewalahan mengobati pasien-pasien yang selalu datang silih berganti tanpa dipungut bayaran.
.
Pada masa inilah kerabatnya datang lagi dan berusaha menjemputnya untuk kedua kalinya dengan membawa seorang pelukis kenamaan Liem Too Hien yang kemudian melukis dirinya dan goa pendhem pasetraan gondoo-mayeet.
.
Konon Tan Tik Sioe dapat "mencipta" sesuai keinginannya, karena ia memang memilikiilmu sabda yang dapat ia amalkan secara sempurna. Penyakit apapun dapat ia sembuhkan kalau memang ia berkehendak penyakit itu sembuh, ranting jadi rokok, daun jadi duit, dan bahkan pada suatu hari ia berjalan-jalan dipinggir Rawa Remang menyaksikan ada petani yang sedang membajak sawah, seketika itu pula ia mengambil ranting kering dan membentuknya menjadi miniatur bajak persis seperti aslinya hanya dengan tangan kosong. [Kini miniatur bajak tersebut masih tersimpan rapi di rumah tetangga saya di kampung]


Berlanjut "Cerita Tan Tiek Siu(IV)
Sumber : tantieksioesian.blogspot.com

Tidak ada komentar: