Senin, 30 Mei 2011

Buku Biografi Tan Tiek Siu


Goa Tan tiek siu tampak dari depan
Goa ini sebenarnya sebuah tempat tinggal sekaligus padepokan.Karena didalamnya berbentuk lorong-lorong yang gelap seperti goa maka orang menyebutnya Goa. Sekitar 1 km sebelah timur terdapat sumber mata air dibawah pohon besar yang masih digunakan penduduk setempat untuk kebutuhan air minum dan keperluan mandi. Daerah sekitar goa merupakan perbukitan bebatuan kapur. Penduduk mengandalkan kebutuhan air hanya dari sumber mata air. Kalaupun membuat sumur dalamnya ngak ketulungan untuk mendapatkan sumber air.
Didepan goa terdapat pohon besar asem jawa.dibelakang goa merupakan bukit yang dulunya merupakan hutan jati.


 
Relief ini menggambarkan betapa ia sebatang kara dan hidup selibat, bicara seperlunya, dan hidup dalam kesendirian sepanjang hayat. Isi dari relief ini....(TOENGGANG KERBOWMOE HIDJOOW ITOE ATIE-ATIE, ZONDER SABAAR, TIDAK KAMILIKAN, DJANGAN MOORKAH, TIDAK BOHONG, ZONDER OBROLL, DJAOEH FAMILIMOE, TIDAK ANAK DAN BINIE, DJANGAN DJOESTAK, DJANGAN POERAK-POERAK, TIDAK TJEREWET...), ini merupakan inti ajaranya yg dilandasi kisah hidupnya sendiri yg begitu jelas tergambar dalam kesendirian sepanjang hayat seperti yg ditunjukkan pada relief ini....

GERBANG UTAMA PASETRAAN GONDO-MAYEET

GERBANG UTAMA PASETRAAN GONDO-MAYEET
Gerbang utama ini berupa bulatan diameter 90cm, sekitar 5 m kearah dalam nampak "pintu gerbang dalam" dg ukuran idem ditto berlambang "YIN-YANG", pd masa dulu, hanya ia atau org tertentu saja yg dapat masuk, di dalamnya tersimpan lukisan nampak dari depan "GOA PASETRAAN GONDO-MAYEET" lengkap dg dua pohon kemuning disisi kiri-kanan, juga ada lukisan "POTRET DIRI", yg keduanya dilukis oleh  pelukis keturunan Cina kenamaan pada masa itu (sekitar th 1910-an), yaitu Liem Too Hien, kedua lukisan tsb kini telah raib dan diganti lukisan cat minyak yg dibuat seadanya diatas papan seng oleh pencurinya (pencurinya orang dari luar kota,yaitu salah seorang pengamal ajarannya dan pernah bertapa disini beberapa lama). 
  




 Buku Biografi Tan Tik Sian



Halaman 23-25 Buku Biografi Tan Tik Sioe menjelaskan keberadaanya  Goa  di Sumberagung Tulungagung.

Goa pertapaan Tan Tile Sioe Sian di Tulungagung.


Pada tahun 1922 beliau pindah bertapa di Goa Sumber Agung, dilereng Gunung Gamping Selatan, desa Sumber Agung, kecamatan Rejo-tangan , yang jaraknya dari kota Tulungagung lebih dari 30 kilometer.
Goa ini dinamakan : Pay.Hook Tung, Cave of White Crane atau GoaBangau Putih.Goa ini berdiri di atas tanah setinggi 2 meter. Luas bangunan kira-kira 10 x 6 meter. Dindingnya bersap dua. 

Ada serambi sebanyak 2 buahSerambi kanan dan serambi kiri yang masing-masing berhubungan de-,ngan mang tengah. 

Bagian dalam ruang tengah Goa ada sebuah mejasembahyangan, di atas meja sembahyangan terdapat foto Tan Tik SioeSian dan alat-alat untuk sesaji, antara lain sebuah hiolo (tempat hioswa/ dupa lidi) disebut juga tempat abu dan 2 buah Cektay (tempat lilin)dan lain-lain.

Pintu masuk depan Goa berbentuk lingkaran. Untuk masuk ruangtengah di dalam Goa ini lewat pintu masuk depan harus melangkahkankaki lebih dulu setinggi kira-kira 30 cm.

Bangunan ini terbuat dari batu dan semen. Goa ini didirikan olehpara derrnawan bernama Oei Khee Ing dan Oei Khee Djoe putera-puteraOei Tjo Pie dari Surakarta serta dermawan-dermawan Liem Ping Hwa,Liem Ping Hong dan Liem Ping Lien, famili Emak Liem Sik

Nio, isteridari Embah Tan Ping Yam Tulungagung pedagang besar kopra pada waktuitu.Bangunan Goa tersebut selesai pada tahun 1922. Goa di SumberAgung pada dinding sap kedua bagian dalam tertera ajaran Tan Tik Sioedengan judul : TOEGGANG KERBOW MOE HIDJOOW ITOE ATIE2.

Dan di bawah judul itu tertera : 

tidak kamilikan,
 djangan moorkah,
zonder doeweet,
 djaooh familimoe,
 tidak anak dan bini,
 djangan djoestaktidak bohong,
 zonder obroll, 
djangan poerak2, 
tidak tjrewet.

Pada waktu itu di dalam Goa Sumber Agung banyak Patung-Patung(Kim Sin) yang dipelihara oleh beliau, di antaranya Patung Dewi KwanIm, Kwan Kong menunggang kuda, 

Patung Orang Tua dengan burungPeh; Hook (Bangau Putih) Lie. Lo Tjia dengan jubah merah dan lain-lain. Beliau sering Liam Keng (membaca Kitab Suci) di dalam Goa per-tapaan tersebut dan pada saat-saat demikian beliau tidak mau terimatamu dari manapun datangnya.Setelah itu beliau pindah lagi ke Goa Pertapaan yang lain di lereng gunung Wilis






2 komentar:

musi ono mengatakan...

wow aek banget tulisan iki aku dadi kepengin dolan mrene,eling cilikaanku aku didohi potone mbakyuku waktu numpak prahu neng rawa ngremang,apa saiki rawane isih mas...?,aku tangga sampeyan kidul alas...!!!.matur nuwun

musi ono mengatakan...

mas apa saka gua kono isa tembus tumakpuri, sumberjo mas....?